Maafkanlah Cinta..

Maafkanlah Cinta…

Kita telah begitu sibuk membangun hubungan dengan orang lain namun luput untuk membina hubungan kedalam diri sendiri. Kemudian kitapun bertanya-tanya mengapa hubungan antar orang yang jelas-jelas saling mencintai pun berujung pada kisah tragis yang serupa, dan berulang. Padahal kita sudah sangat sibuk dengan pelbagai pelajaran tentang bagaimana membina hubungan dengan orang lain, sampai-sampai kita kehilangan waktu untuk belajar tentang diri sendiri.

Mari kita akui dengan jujur bahwa kita mungkin belum memberikan cukup waktu bagi diri ini untuk belajar mengamati keseharian diri kita sendiri. Bahkan dalam setiap konflik yang hadirpun kita mengalami kesulitan baru lagi yaitu bagaimana memaafkan orang lain. Mungkin kitapun masih harus terlebih dahulu menuntaskan pelajaran memaafkan diri sendiri, suatu pelajaran yang juga jarang disentuh, yang merupakan akar dari pelajaran mencintai diri sendiri sebagai bentuk kebersyukuran atas anugerah hidup yang telah disematkan ke dalam jasmani kita dan bersemayam di hati.

Kita tidak akan memberikan sepotong apel pada bayi berusia 6 bulan, sekalipun dengan niat untuk menambah asupan vitamin yang memang penting baginya. Ini dikarenakan segalanya ada prosesnya tersendiri. Oleh karena itu, bagaimana kita akan bisa menjalin hubungan baik dengan orang lain jika kita acapkali lengah dalam membina keterhubungan dengan diri kita sendiri. Mulailah dengan menerima diri kita sendiri apa adanya sebelum habis-habisan berjuang untuk menerima orang lain sebagaimana mereka adanya. Untuk itu, marilah kita maafkan diri kita sendiri atas adanya kita seperti ini.

Berdamailah, dan jadilah tokoh utama bagi hidup kita sendiri. Berhentilah menjalani kehidupan orang lain dan berbedalah.
Dalam perjalanan ini, akan kita temui jiwa-jiwa yang datang dan pergi. Cinta yang bersemi lalu mati. Kebencian yang tumbuh jadi kasih. Kebersamaan dan perpisahan yang silih-berganti. Api kemarahan yang padam sendiri. Lalu akan ada pula yang mendiktekan pada kita bagaimana seharusnya hidup ini kita jalani tanpa kita minta. Dan seluruh pola hidup kita pun mulai kehilangan warna-warninya. Sebab untuk memiliki warna berbeda bisa terkena dosa sosial yang alergi pada perbedaan. Menjadi berbeda tidak otomatis merusak tatanan yang telah ada karena perbedaan dan keragaman itu sendiri adalah realitas penciptaan semesta oleh Yang Maha Kaya.

Aku adalah Kekayaan-Nya. Aku pun adalah tanda Keberadaan-Nya. Dan aku juga bagian dari Kebesaran-Nya. Kemampuanku untuk memilih “Jalanku Sendiri” adalah bukti Keagungan-Nya. Maka, perbedaan antara engkau dan aku adalah wujud nyata Kesempurnaan-Nya yang meliputi segala sesuatu. Kini, engkau dan aku adalah Satu, lantas apakah itu artinya kita masih berbeda? Sesungguhnya yang satu maujud kedalam yang banyak dan yang banyak adalah tetap yang satu.

Maafkanlah segala rasa cinta yang tidak pada saat dan tempatnya, karena cinta melampaui ruang dan waktu. Maafkanlah semua rasa cinta yang merusak asa, sebab cinta mampu melahirkan asa baru. Dan maafkanlah seluruh rasa cinta yang mengusik tidurnya jiwa, itu semua semata-mata untuk menggugah rasa. Karena cinta, mungkin kita akan terbakar, tapi tidak di neraka, sebab cinta datang dari surga. Semoga kita akan tetap bisa terus mencinta sebagaimana adanya…

“NeoSentra”
Posted in Akashic Records

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 2 other followers