2009…..2009…Sebuah Renungan…

Diambil dari http://www.jhodyap.wordpress.com
NeoSentra..

2009..2009 :

Sejak kita masih kecil, disadari atau tidak, kita telah belajar untuk menganggap bahwa diri kita adalah pusat perhatian. Sehingga segala hal yang kita lakukan cenderung memerlukan pujian maupun imbalan. Namun yang kemudian menjadi persoalan adalah ketika ternyata hal tersebut diharapkan hanya berjalan satu arah saja, yaitu kalau perbuatan baik maka pujilah dan ganjarlah, sebaliknya jika perbuatan buruk maka tolong jangan menghina dan maklumi sajalah. Pada gilirannya kita menjadi sangat bergantung pada pengertian dan pandangan orang lain.

Kita akan semakin kesulitan untuk menerima kritik dan menyikapi perbedaan persepsi. Kita menjadi intoleran sekaligus menuntut agar orang lain toleran kepada kita. Kita kehilangan kemampuan introspeksi diri dan malah mengembangkan kemampuan untuk melihat kesalahan pada orang lain dengan semakin peka lagi, dan kitapun menjadi hyper-sensitive. Kita semakin eksklusif dan tidak lagi mampu melihat selain diri kita sendiri yang menjadi hijab baru bagi evolusi spiritual kita.
Contohnya pad tanggal 20 September 2009 yang lalu atau yang bisa dinotasikan dengan 20092009, seolah saat itu ada yang mendorong kita bahwa harus ada yang spesial dan menarik yang terjadi, terutama menyangkut kehidupan kita. Sebagaimana juga terjadi pada tanggal 9 September 2009 yang lalu (090909/999), ketika di berbagai belahan dunia banyak sekali orang-tua yang memaksakan kelahiran anaknya agar bertepatan dengan momentum notasi 999 tersebut. Padahal, sesuatu yang spesial justru tidak terletak pada artifisialitas suatu peristiwa, melainkan ada di alamiahnya kejadian dan prosesnya. Kita bahkan telah menjadi sangat siap untuk memaksakan apa saja agar kita bisa selalu merasa spesial.

Persoalan yang sebenarnya tidak terletak pada menjadi spesial karena sesungguhnya tidak ada yang salah dengan menjadi spesial. Yang menjadi masalah adalah ketika kita menempatkan rasa itu pada pengakuan dari orang lain, dan ini adalah sesuatu yang kita pelajari sejak kanak-kanak. Ketika itu, kita selalu menjadi pusat perhatian, terutama saat kita bersedih atau terluka dan menangis. Tanpa disadari, kita tengah belajar untuk mendapatkan perhatian dari lingkungan, sehingga lambat-laun kitapun semakin kehilangan kemampuan untuk memberi perhatian.

Keinginan untuk menjadi spesial perlahan-lahan mulai tergantikan menjadi keinginan untuk menjadi korban (playing victim). Karena jalan inilah yang kita kenal sejak dahulu, yaitu mendapatkan perhatian orang lain karena kita bernasib malang dan sedang tidak beruntung. Bahkan kita pun sanggup untuk merekayasa situasi batin kita demi mencapai pemenuhan perhatian tersebut. Padahal, ketika kita menganggap bahwa kita adalah korban, sesungguhnya kitalah pelaku yang sebenarnya. Kitalah yang menempatkan diri kita sendiri di kursi penderitaan yang barangkali situasinya tidak separah keadaan sebenarnya, hanya semata-mata untuk menjadi pusat perhatian yang telah menjadi candu bagi kita, sambil menunggu siapapun datang memberikan pertolongan dan upaya penyelamatan.

Memang mudah sekali bagi siapapun untuk menempatkan dirinya sebagai korban dari segala-galanya seperti orang-tua, saudara, pasangan, lingkungan, bahkan Tuhannya. Namun secara bersamaan kita menjadi kesulitan untuk bisa melihat bahwa sebenarnya diri kita sendirilah yang berada dibalik semua persepsi yang timbul dari dalam diri. Kitalah penanggung-jawab sepenuhnya atas apa yang berlangsung di dalam batin kita, terlepas dari apapun yang tengah berlangsung di luar diri kita.

Oleh karena itu, berusahalah untuk selalu menyadari apa yang tengah berkecamuk di dalam diri kita agar kita tidak terkecoh dalam mengambil keputusan dan bertindak. Cobalah untuk bisa mengambil jarak antara gejolak kereta pikiran kita dengan kita yang sedang mengamati gejolak tersebut, karena kita bukanlah pikiran kita. Dan keluarlah dari paradigma sebagai korban dari keadaan hanya agar bisa mendapatkan perhatian orang lain dan menjadi spesial. Kita tidak akan pernah bisa menyenangkan hati semua orang, dan lebih jauh lagi, bertanggung-jawablah atas diri kita sendiri dimana kepuasan yang hakiki akan muncul dan membuat kita spesial tidak dalam ukuran yang dibuat oleh kepala orang lain, melainkan spesial karena kita utuh dan penuh sebagai Manusia. Semoga kita semua akan bisa…

“NeoSentra”

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 2 other followers