CIPA, Penyakit yang tidak bisa Merasakan Sakit

From : http://health.detik.com/read/2009/09/29/080535/1210697/763/cipa-penyakit-yang-tak-bisa-merasakan-sakit
Selasa, 29/09/2009 08:05 WIB
CIPA, Penyakit yang Tak Bisa Merasakan Sakit

Nurul Ulfah – detikHealth

img
(Foto: health.howstuffworks)

Minnesota, Bagaimana rasanya jika kita tidak bisa merasakan sakit? Tertimpa batu, teriris pisau atau terkena api tidak terasa sakit sama sekali. Mungkin terdengar menyenangkan, tapi tidak untuk orang yang menderita penyakit CIPA (Congenital Insensitivity to Pain with Anhidrosis).

Hanya sedikit orang yang tahu apa itu penyakit CIPA. Penyakit yang juga dikenal dengan istilah Hereditary Sensory Neuropathies (HSN) adalah penyakit gangguan atau kemunduran sistem saraf yang mengakibatkan seseorang kehilangan rasa atau sensasi dari luar, terutama di bagian tangan dan kaki.

Penyakit ini sangat komplikasi, bersifat turunan, banyak tipenya dan sangat langka terjadi. Tapi yang pasti semua tipenya menyebabkan gejala yang hampir sama yaitu kehilangan fungsi saraf sensori dan respons kontrol terhadap sakit dan suhu. Akibatnya, seseorang tidak bisa bergerak secara spontan ketika badannya terkena rangsangan dari luar.

Seorang gadis asal Minnesota Amerika, Gabby Gingras adalah salah satu penderita CIPA. Meskipun ia bisa merasakan sentuhan, tapi otaknya tidak dapat menerima sinyal bahwa ia sedang kesakitan. Jadi jika kakinya patah atau menaruh tangannya di atas plat panas, ia tidak akan merasakan apa-apa.

“Tidak bisa merasakan sakit rasanya sangat tidak enak. Ketika saya bertanya pada Gabby, ‘apa yang kamu rasakan ketika jatuh dan terluka?’, ia menjawab ‘rasanya seperti ingin nangis tapi tidak bisa’,” ujar Dr. Peter Dyck at the Mayo Clinic seperti dikutip dari CNN, Selasa (29/9/2009).

Sebelumnya orang tua Gabby, Steve dan Trish Gingras mengetahui keganjilan yang dialami putrinya ketika umurnya 4 bulan. Gabby menggigiti jarinya sendiri sampai berdarah-darah tanpa menangis. Akhirnya pada usia 2 tahun, giginya terpaksa dicabut agar tidak melukai dirinya sendiri lagi.

Keanehan lain yang ditemukan orangtua Gabby yaitu ketika Gabby mengoleskan gel ke kornea matanya. Gel yang dioleskan Gabby bisa mengakibatkan rasa gatal dan jika terus-terusan digosok tanpa rasa sakit bisa menyebabkan kedua matanya rusak. Gabby pun terpaksa harus menggunakan alat bantu penglihatan karena matanya rusak.

Di sekolahnya, Gabby selalu diikuti dan dijaga oleh asisten pribadi yang akan membantunya jika terjadi luka serius. Orang tua Gabby pun berusaha memantau segala tindakan yang bisa membahayakan Gabby lewat monitor yang dipasang di kelas dan rumah.

“Kami juga membuat website khusus untuk orang tua yang memiliki penyakit seperti Gabby. Kami butuh orang-orang untuk berbagi, memberikan informasi dan saling menasihati,” ujar Steve.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 2 other followers