AGAMA vs SAINS

AGAMA vs SAINS

Diambil dari ceramah “NeoSentra” (July 2009)
Di hadapan beberapa Guru besar dan Rektor sebuah institusi Pendidikan tinggi terkemuka di tanah air
http://www.neosentra.com

Agama dan Sains, diantara keduanya tidak pernah benar-benar ada pertentangan yang substansial. Yang sesungguhnya terjadi hanyalah paradoks dari “alat” yang digunakan untuk memasuki masing-masing ranah tersebut. Namun paradoks ini ada baiknya dibiasakan untuk dibahas karena tidak bisa kita pungkiri bahwa kenyataannya diluar sana masih banyak sekali pihak-pihak yang menjadikan paradoks ini sebagai garis demarkasi yang teramat sangat nyata sehingga memaksa dikotomi antara agama dengan sains untuk keluar dari sekedar paradoks. Walhasil, keduanya seolah menjadi musuh bebuyutan sepanjang sejarah kita. Kepentingan kita untuk menuntaskan paradoks tersebut adalah agar kita bisa memahami asal-muasal lahirnya paradoks tersebut, dimana apabila kita tarik garis kebelakang, maka kita akan temukan jejak-jejak sejarah peradaban umat manusia yang menemukan jawaban atas sains lewat pintu agama dan sebaliknya, banyak pula dari mereka yang menemukan pembuktian kebenaran agama melalui pintu kajian sains. Agama dan Sains merupakan penggeser paradigma yang subyektif, yang akan bergantung kepada siapa yang menggalinya.

Sebetulnya, kalau kita cermati secara mendalam maka kita akan menemukan bahwa agama pun pada dasarnya adalah sains. Hanya saja metode ilmiah dan empiris dari sains memang membatasi dirinya pada penggunaan “alat-alat” observasi sebatas indrawi, sekalipun kita sudah menggunakan peralatan-peralatan mutakhir sebagai penunjang. Sedangkan agama secara khas memiliki ranah-ranah yang tidak bisa menggunakan “peralatan” yang sama untuk membedahnya. Apa-apa yang tidak bisa dicapai oleh “peralatan” sains maka oleh mainstream ilmuwan pada masanya akan ditolak dan dianggap absurd, sedangkan bagi mainstream ulama pada zamannya mewajibkan keimanan sebagai satu-satunya jalan masuk kedalam agama dan cenderung untuk menafikan metode ilmiah dan empiris. Cukup ironis bila kita lihat akar kata dari Ilmuwan dan Ulama adalah sama-sama ‘ilm.

Peradaban kita manusia sudah mencapai titik yang cukup mengagumkan bila ditilik dari terjadinya revolusi teknologi diberbagai bidang, namun secanggih apapun itu maka kita sendiri tetap belum memiliki petunjuk sedikitpun mengenai RASA BAHAGIA & DAMAI. Kita belum bisa menyentuh perasaan emosional kita sama sekali dengan teknologi yang ada. Mungkin sekelompok obat-obatan bisa menenangkan syaraf kita, tetapi tidak demikian dengan batin kita. Kita juga disuguhkan dengan beragamnya hiburan melalui alat-alat elektronik, namun hal tersebut hanya menciptakan ketergantungan baru bagi kita, belum lagi pertandingan “gengsi” dalam hal memiliki barang yang terbaru, yang pada akhirnya hanya menimbulkan masalah baru lagi. Begitu pula sebaliknya, ketika agama memerintahkan kita untuk BERSABAR & BERSYUKUR, kita memaksakan diri untuk mengimaninya sehingga secara berat kita akan mulai berpura-pura untuk sabar, yang sebetulnya akan mudah terjadi ketika kita sedang dalam keadaan “kepepet”, dimana sudah tidak ada pilihan lain lagi, setidaknya itu yang muncul dalam pikiran kita. Jadi kepasrahan yang kita miliki hanya sebatas “kepepet”, dan jikalau belum “kepepet” sudah buru-buru pasrah maka kita bisa dicap sebagai orang yang malas berikhtiar.

Lalu kemudian sekelompok orang bijak akan meredefinisi kembali tentang apa yang sebenarnya dimaksud dengan PASRAH dalam agama, dalam hal ini khususnya Islam. Namun pada kenyataannya, definisi-definisi tersebut tetap tidak mampu memuaskan lebih banyak umat lagi sebagaimana jawaban-jawaban sains pun tidak pernah benar-benar memuaskan. Lantas, apa yang harus dilakukan ketika sains & agama tidak pernah benar-benar menjawab persoalan kehidupan kita yang paling mendasar dan PRIMORDIAL seperti yang diwakili oleh pertanyaan retorik berikut ini: Apakah kita sudah bahagia dengan keadaan kita sekarang? Jika iya, apakah keadaan ini bertahan terus atau bisa hilang karena hilangnya sumber-sumber bahagia tersebut? Jika kita masih kehilangan sesuatu, bukankah itu berarti kita belum benar-benar memilikinya? Marilah kita jujur dalam menjawabnya, setidaknya kepada diri kita sendiri. Lalu kita akan berargumen bahwasanya semua adalah milik Allah, jadi kita manusia tidak memiliki apapun termasuk pula Keimanan kita kepada-Nya.

Inilah perdebatan filosofis yang tak kunjung selesai karena sadar atau tidak sadar, kebanyakan dari kita pun tengah memperlakukan agama seperti sains dan menjadikan kitab suci al-Qur’an seperti kitab sejarah, untuk kemudian sama-sama bingungnya dengan kenyataan hidup yang kita jalani sehari-hari dimana konflik dengan keluarga terjadi, konflik dengan rekan kerja silih-berganti dan kita mulai terdorong untuk menjadikan Tuhan kita sebagai pelayan, alih-alih melayani-Nya kita malahan meminta-minta tanpa menyadari terlebih dahulu apa saja yang sudah diberikan-Nya. Meminta kepada yang Maha Pengasih dan Penyayang adalah hal yang sangat wajar, namun pola pikir dan kesadaran macam apakah yang tengah melandasi permintaan dan permohonan kita itu, yang akhirnya menjadi penentu kualitas kita dalam ber-Tuhan. Disinilah pentingnya melihat hakikat didalam segala sesuatu. Melihat ‘ruh’ yang melandasi sains dan agama. Memandang jauh kedalam Spiritualitas yang ingin disampaikan oleh para Nabiullah dan Rasul-Nya. Pencarian yang juga telah dan masih menggelitik para ilmuwan dan Ulama, yang juga telah membangun ‘kegelapan’ bagi sebagian manusia lainnya yang “tersesat” dalam belantara paradigma kehidupannya masing-masing yang sebenarnya merupakan suatu upaya pencarian dan penggalian akan makna Hakiki dari digelarnya alam semesta ini oleh Yang Maha Kuasa Robbal’alamin. Inilah pintu berikutnya dari intisari kehidupan, yaitu Hakikat dari Hidup itu sendiri yang selanjutnya akan kita sebut sebagai Spiritualitas.

Spiritualitas (bukan klenik) melampau agama dan sains karena Spiritualitas merupakan esensi terdalam dari segala bentuk syariat agama dan penemuan sains. Spiritualitas merupakan embrio bagi lahirnya tradisi budaya yang menyadari adanya suatu kekuatan yang transenden dan imanen, yang menjadi bibit bagi terciptanya alam semesta kita ini. Spiritualitas juga merupakan intisari dari segala ajaran para Nabi dan Rasul Allah dimana kita akan menemukan nilai-nilai universal dari tiap-tiap kepercayaan. Ini bukan berarti bahwa semua agama adalah sama. Ini sekedar menegaskan kembali pada kita bahwa semua agama berupaya mengajak pemeluknya menuju pada satu Eksistensi yang sama, dan begitupun halnya dengan sains, dimana bahwa seluruh pencarian dan penemuan yang ada adalah tengah mengarah pada Sumber yang sama. Pendekatan dan jalan yang ditempuh oleh masing-masing agama dan aliran-aliran sainslah yang melahirkan ke-khas-annya tersendiri. Bagaikan mendaki sebuah gunung, sebagian berangkat melalui utara yang terjal, sebagian lagi melalui selatan yang landai, lalu ada yang tersesat di barat dan ada pula yang sampai dengan mulus di puncak lewat sisi timurnya. Namun pada saat semuanya bertemu di titik puncak pendakian tersebut, maka leburlah segala arah tergantikan oleh satu titik kebersamaan yang menjadi akar dari segala pendakian. Dan pada akhirnya, setiap pendaki akan kembali turun melalui jalurnya masing-masing yang berbeda satu dengan lainnya, namun tetap saling membawa pengalaman dari puncak gunung yang sama. Itulah pengalaman Spiritual yang dalam penyampaiannya akan menggunakan bahasa kaumnya masing-masing dan sesuai dengan kondisi kulturalnya tersendiri serta semangat zamannya yang akan memberikan warna terhadap penekanan-penekanan dan arahan atas pendekatan yang dipilih. Apapun hasilnya, pada akhirnya kita jualah yang perlu untuk mencicipi esensi hakiki tersebut dengan membedah tiap-tiap jalan yang kita pilih dan berusaha menikmati buahnya yang akan memberikan kita pencerahan dan pemaknaan yang lebih luhur lagi atas anugerah kehidupan yang telah dikaruniakan-Nya kepada kita semua.


By : NeoSentra..
Speech on July 2009
http://www.neosentra.com

1 Comment

  1. agama mendeskripsikan realitas secara keseluruhan (baik yang abstrak maupun yang konkret) karena realitas itu sebagaimana manusia terbagi kepada dua dimensi antara jiwa dan raga maka realitas terbagi kepada dua dimensi antara yang abstrak (yang bisa diinderai) dan yang konkrit (yang bisa diinderai) (dan inilah pemahaman terhadap realitas yang benar-utuh..sedang sains (ilmu material) hanya bisa menafsirkan realitas sebatas itu bisa tertangkap dunia indera sebab metodologi sains dibatasi hanya segala suatu yang bisa masuk wilayah pengalaman dunia indera.dengan pemahaman seperti ini maka kita bisa mengetahui dimana kita meletakkan harus agama dan dimana kita harus meletakkan sains. kalau sains menghakimi agama itu seperti orang buta menghakimi orang awas,yang terbatas menghakimi konsep yang meliputi hal hal yang tidak bisa dibatasi oleh manusia,yang kecil dan sempit menghakimi yang besar dan luas.hanya sikap emosional orang atheistik yang tidak memperdulikan jalan fikiran yang luas dan cerdas dimana mereka selalu membenturkan secara langsung temuan sains dengan agama,walau temuan itu masih sebatas teori (yang hanya berdasar kepada fakta yang ditafsirkan semisal teori Darwin) ((dan bandingkan dengan teori ilmiah yang bersandar kepada fakta yang real secara langsung (seperti teori mekanika alam semesta Newton).


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 2 other followers